Rabu, 10 April 2013

KOLESISTITIS

KOLESISTITIS
(Radang Kandung Empedu)

A.   Pengertian
-       Kolesistitis adalah inflamasi kandung empedu (Suzanne C. smeltzer dan Brenda G. bare. 2001 : 2004).
-       Kolesistitis adalah inflamasi dinding kandung empedu yang disertai keluhan nyeri perut kanan atas, nyeri tekan dan panas badan (prof. dr. H.M. Sjaifoellah Noer: 1996)
-       Kolesistitis adalah radang kandung empedu yang merupakan reaksi inflamasi akut dinding kandung empedu disertai keluhan nyeri keluhan perut kanan atas, nyeri tekan dan panas badan ( www.google.com)
B.    Etiologi
Penyebab terjadinya kolesistitis adalah statis cairan empedu, infeksi kuman dan iskemia dinding kandung empedu. Bagaimana stasis di duktus sistitis dapat menyebabkan kolesistitis dalam belum jelas. Banyak factor yang berpengaruh seperti kepekatan cairan empedu, kolesterol, lisolesitin dan prostaglandin yang merusak lapisan mukosa dinding kandung empedu diikuti oleh reaksi inflamasi dan supurasi.
Selain factor-faktor di atas kolesistitis dapat terjadi juga pada pasien yang dirawat cukup lama dan mendapat nutrisi secara parentesal pada sumbatan karena keganasan kandung empedu, batu disaluran emepedu atau merupakan salah satu komplikasi penyakit lain seperti demam tipoid dan IOM (Prof. dr. H.M. Sjaifaoellah Noer).
C.    Klasifikasi Kolesistitis
Jenis kolesistitis dapat dibagi menjadi 2 menurut waktu timbulnya penyakit, yaitu:
1.      Kolesistitis Kalkulus
Terdapat pada lebih dari 90% pasien kolesistitis akut. Pada kolesistitis kalkulus, batu kandung emepdu menyumbat saluran keluar empedu. Getah emedu yang tetap berada pada kandung empedu akan menimbulkan suatu reaksi kimia: terjadi otolisis serta edema, dan pembuluh darah dalam kandung empedu akan terkompresi sehingga suplay vaskulernya terganggu. Sebagai konsekuensinya dapat terjadi gangrene pada kandung empedu disertai perforasi. Bakteri kurang berperan dalam kolesistitis akut, meskipun demikian, infeksi sekunder oleh E. coli dan kuman enteric lainnya terjadi pada sekitar 40% pasien.
2.      Kolesistitis Akalkulus
Merupakan inflamasi kandung empedu akut tanpa adanya obstruksi oleh batu emped. Kolesistitis akulkulus timbul sesudah tindakan bedah mayor trauma brat atau luka baker. Factor-faktor lain yang berkaitan dengan tipe kolesistitis ini mencangkup obstruksi duktus sistikus akibat terinfeksi primer bacterial pada kandung empedu dan tranfusi darah yang dilakukan berkali-kali kolesistitis akalkulus diperkirakan terjadi akibat visceral. Kejadiannya yang menyertai tindakan bedah mayor atau trauma mempersulit penegakan diagnosis keadaan ini.

D.   Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala untuk kolesistitis akut adalah nyeri perut kanan atas serta kenaikan panas tubuh. Kadang-kadang rasa sakit menjalar ke pundak / scapula kanan dan dapat berlangsung selama 60 menit tanpa reda. Pada pemeriksaan fisi teraba masa kandung empedu, nyeri tekan. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya leukosistesis serta kemungkinan peninggalan serum transaminase dan fostatase alkali.

E.    Pathofisiologi
Ada 2 tipe utama batu empedu: batu yang terutama tersusun dari pigmen dan batu yang terutama tersusun dari kolesterol.
Batu pigmen kemungkinan akan terbentuk bila pigmen yang tak terkontinyugasi dalam emepdi mengadakan presipitasi (pengendapan) sehingga terjadi batu. Batu ini bertanggung jawab atas sepertiga dari pasien-pasien batu empedu di Amerika Serikat. Resiko terbentuknya batu semacam ini semakin besar pada pasien sirosis, hemolisis dan infeksi percabangan bilier. Batu ini tidak dapat dilarutkan dan harus dikeluarkan dengan jalan operasi.
Batu kolesterol bertanggung jawab atas sebagian besar kasus yaitu emedu lainnya di Amerika Serikat. Kolesterol yang merupakan unsure normal pembentuk empedu bersifat tidak larut dalam air. Kelarutannya bergantung pada asam-asam empedu dan lesitin (fosfolipid) dalam empedu. Pada pasien yang cenderung menderita batu empedu akan terjadi penurunan sintosis asam empedu dan peningkatan sintesis kolesterol dalam hati : keadaan ini mengakibatkan supersaturasi getah empedu oleh kolesterol yang kemudian keluar dari getah empedu, mengendap dan membentuk batu. Getah empedu yang jenuh oleh kolesterol merupakan predisposisi untuk timbulnya batu empedu dan berperan sebagai irisan yang meyebabkan peradangan dalam kandung empedu.

F.    Test diagnostic
Pemeriksaan untuk mengetahui adanya radang pada kandung empedu atau kolesistitis adalah :
1.      Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)
Sebaiknya dilakukan secara rutin dan sangat bermanfaat untuk memperlihatkan besar, bentuk, penebalan dinding kandung empedu, batu dan saluran empedu ekstra hepatic. Nilai kepekatan dan ketetpatan USG mencapai 90 – 95%.
2.      Skintigrafi saluran empedu
Mempergunakan zat radioaktif HIDA atau ggn TC6 Iminodiaretic acid mempunyai niai sedikit lebih rendah dari USG tapi teknik ini tidak mudah. Terlihatnya gambaran duktus koledokus tenpa adanya gambaran kandung empedu pada pemeriksaan kolesistografi oral atau scintigrafi sangat menyokong kolesistitis akut.
3.      Pemeriksaan CT scan abdomen.
Kurang sensitive dan biayanya mahal tapi mampu memperlihatkan adanya abses perikolestik yang masih kecil yang mungkin tidak terlihat pada pemeriksaan USG.

G.   Penatalaksaan
1.      Penatalaksanaan penduung dan diet
ü  Istirahat yang cukup
ü  Intervensi bedah harus ditunda sampai gejala akut mereda.
ü  Berikan diit makanan cair rendah lemak dan karbohidrat
ü  Pemberian buah yang masak, nasi / ketela, daging tanpa lemak, kentang yang dilumatkan, sayuran yang tidak membentuk gas, roti,kopi atau teh.
ü  Hindari telur, krim, daging babi, gorengan, keju dan bubu-bumbu berlemak.
2.      Farmakoterapi
ü  Diberikan asam ursodeoksikolat (uradafalk) dan kerodeoksikolat (chenodical, chenofalk digunakan untuk melarutkan batu empedu radiolusen yang berukuran kecil terutama terbentuk dari kolesterol
ü  Mekanisme kerja ursodeoksikolat dan konodeoksikolat adalah menghambat sintesis kolesterol dalam hati dan sekresinya sehingga terjadi desaturasi getah empedu
ü  Diperlukan terapi selama 6 hingga 12 bulan untuk melarutkan batu empedu dan selama terapi keadaan pasien dipantau terus.
ü  Dosis yang efektif bergantung pada berat pasien, cara terapi ini umumnya dilakukan pada pasien yang menolak pembedahan atau yang dianggap terlalu beresiko untuk menjalani pembedahan.
ü  Obat-obatan tertentu lainnya seperti estrogen, kontrasepsi oral, klofibrat dan kolesterol makanan dapat menimbulkan pengaruh merugikan terhadap cara terapi ini.

H.   Diagnosa Keperawatan
1.       Nyeri berhubungan dengan / spasme dutus. Proses implamasi istemik jaringan / naktosis.
ü  setelah dilakukan tindakan 1 x 24 jam masalah nyeri sudah dapat teratasi dengan criteria hasil.
ü  Melaporkan nyeri hilang / terkontrol
ü  Menunjukkan penggunaan ketrampilan dan aktivitas hiburan sesuai indikasi untuk situasi individual.
Intervensi :
a)   Observasi dan catat lokasi (sala 0 – 10) dan karakter nyeri rasionalnya: mambantu membedakan penyebab nyeri.
b)  Nyeri respon terhadap obat, dan laporkan pada dokter bila nyeri hilang.
Nyeri berat yang tidak hilang dengan tindakan rutin
c)   Tingkatkan tirah baring, biarkan pasien melakukan posisi yang nyaman.
Rasionalnya : tirah baring pada posisi fawler rendah menurunkan tekanan intra abdoman.
d)  Gunakan sprei halus / katun : kompres dingin / lembab sesuai indikasi
Rasionalnya  : menurunkan iritasi kulit kering dan sensasi gatal
e)   Kontrol suhu lingkungan
Rasionalnya : dingin di sekitar ruangan membantu meminimalkan ketidaknyamanan kulit.
f)   Dorong menggunakan teknik relaksasi.
Rasionalnya : meningkatkan istirahat, memusatkan kembali perhatian.
2.       kekurangan volume cairan berhubungan dengan gangguan proses pembekuan
·      setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 X 24 jam kekurangan volume cairan dapat diatasi dengan criteria hasil :
Menunjukkan keseimbangan cairan adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, membrane mukosa lembab.
·      Intervensi
a)     Hindarkan dari lingkungan yang berbau
Rasionalnya : menurunkan rangsangan dari pusat muntah.
b)    Pertahankan masukan dan haluaran akurat.
Rasionalnya : memberikan informasi tentang status cairan/volume sirkulasi dan kebutuhan penggantian.
c)     Pertahankan pasien puasa sesuai keperluan.
Rasionalnya : menurunkankan sekresi dan mutilitas gaster.
d)    Berikan cairan iv, elektrolit dan vitamin A.
Rasionalnya : mempertahankan volume sirkulasi dan memperbaiki ketidakseimbangan.
3.       Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, muntah akibat kolesistitis.
·      Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 X 24 jam nutrisi kebutuhan tubuh dapat teratasi dengan kriteria hasil :
a.     Melaporkan mual / muntah hilang
b.    Menunjukkan kemajuan mencapai berat badan

Intervensi
a.     Perkiraan / hitung pemasukan kalori
Rasional : menidentifikasi kekurangan / kebutuhan nutrisi
b.     Kaji distensi abdomen, sering bertahak, berhati-hati, menolak bergerak.
Rasional : tanda non-verbal ketidaknyamanan berhubungan dengan gangguan pencernaan.
c.     Berikan garam empedu contoh: biliran, zanchoi sesuai indikasi
Rasional : meningkatkan pencernaan dan absorbsi lemak
d.     Diberikan dukungan nutrisi total sesuai kebutuhan
Rasional : makanan pilihan tergantung pada derajat ketidakmampuan / kerusakan kandung empedu
4.       Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang tahu tentang penyakitnya
·      Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam kurang pengetahuan dapat diatasi dengan criteria hasil :
a.        Menyatakan perubahan pola hidup dan berpartisipaso dalam program pengobatan.
b.       Melakukan perubahan pola hidup dan berpartipasi dalam program pengobatan.
Intertevensi :
a.      Kaji ulang proses penyakit / prognosis
Rasional : memberikan dasar pengetahuan kepada pasien.
b.      Berikan penjelasan lalasan tes dan persiapannya.
Rasional : informasi menurunkan cemas, dan rangsang simpatis.
c.      Diskusikan program penurunan berat badan bila diinginkan
Rasional : penurunan berat badan menguntungkan dalam manajemen medik terhadap kondisikionis.
d.      Anjurkan istirahat pada posisi semifawler setelah makan
Rasional : meningkatkan aliran empedu dan relaksasi umum selama proses pencernaan awal
PENUTUP

Kolesistitis adalah radang pada kandung empedu yang merupakan reaksi inflamasi akut dinding kandung empedu disercal keluhan nyeri perut kanan bawah, nyeri tekan dan panas badan.
Kolesistitis dapat disebabkan oleh statis cairan empedu infeksi kuman dan iskemia dinding kandung empedu, penyebab lainnya sepertu kepekatan cairan empedu, kolesterol, lisolesitin dan prostaglandin yang merusak lapisan mukosa dinding kandung empedu.
Jenis kolesistitis dapat dibagi menjadi 2, yaitu kolesistitis kalkulus dan kolesistitis akulkulus. Test diagnostic pada kolesistitis dilakukan dengan cara pemeriksaan ultrasonografi (USG) skintigrafi saluran empedu, pemeriksaan C scan abdomen










DAFTAR PUSTAKA

Doenges,, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC : Jakarta
Noer, Sjaifoellah. 1996. Ilmu Penyakit Dalam. HKUI: Jakarta
Pearce, Evelyn C. 2006. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. PT. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta
Smeltzer, Suzanne c, dkk. 2001. Keperawatan medical bedah EGC: Jakarta


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar